CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Perjalanan Kita...

Daisypath Anniversary tickers
Tampilkan postingan dengan label Persiapan Menikah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Persiapan Menikah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 September 2011

di baLik haRi baHaGia....

Banyak orang bilang menjelang hari H biasanya banyak ujian datang silih berganti..Pada nakut2in niih...hiks..


Dan mungkin emang bener..dari ribut2 soal masalah sepele sampe ribut besar gara2 masalah yg besar jg udah aq alami H-7 bulan...hadeeh...masih lama kok ya ujiannya udah nongol ajah seeh..~~'


Klo udah gtu mau gmn lagi..yang penting saling instropeksi diri dan salah 1 harus ada yg mengalah..Gw slalu inget kata Bapak,tiap kali ada masalah slalu ingat Allah,karna smw cobaan & masalah itu datangnya dr Allah dan Allah g'akan kasih cobaan melebihi kemampuan umatNya..jadi Bapak slalu bilang "Aq latihan sabar & slalu belajar ikhlas,banyak istighfar,insyaAllah hatimu akan tenang,dengan hati yang tenang maka kamu bs menyelesaikan masalah & menghadapi cobaan dengan ikhlas..",alhamdulillah...gw pny seorang bapak yg benar2 bs jd panutan..Terima kasih bapakku sayang..i'll always loving u dad... :*


Kata kakak gw juga sama, setiap capeng itu ujian & cobaannya beda2 dan kuncinya hanya "sabar" di setiap ujian & cobaan..

Kamis, 22 September 2011

aRe u reaDy?

Dapet artikel ini dr hasil browsing di mbah gugel beberapa bulan yang lalu (dah lm beut),tp bener2 lupa dr blog mn...ijin sharing ya ukhti...^_^
Buat renungan para Akhwat yg maybe blum b'temu jodoh & sering mendapat pertanyaan "Kapan nikah?", ataupun buat Ukhti2 yg berstatus capeng yg ditanya para tetua "Beneran udah siap merit?Dah siap nanggung resikonya?"..bla..bla...nah lo...gmn tuh..pasti batin kalian pun bertanya2..siap gak yaah...
Nah,ini ada sedikit artikel yg iA bs membantu masalah kegalauan hati qt..cekidot...
Sahabat muslimah… Ada beberapa hal yang harus dipersiapkan ketika kita memutuskan untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Antara lain:
1. Kesiapan Pemikiran yang mencakup:
a. Kematangan Visi Keislaman
Hal ini dimaksudkan, agar pasangan suami istri mempunyai frame yang sama mengenai Islam sebagai dasar rumah tangga, agar rumah tangga benar-benar bernilai ibadah, tidak hanya sebagai pemuas kebutuhan biologis saja. Dengan ajaran Islam sebagai landasan rumah tangga, diharapkan, rumah tangga tersebut dapat menjadi rumah tangga yang sakinah mawaddah warrohmah.
b. Memiliki kematangan visi kepribadian
Disamping beragama secara kultural, banyak juga orang yang landasan keislamannya di bangun oleh emosi. Namun karena tidak dilandasi oleh pengetahuan Islam yang kuat, kadang membuat sebagian orang cepat futur, bosan dan lain sebagainya. Jika hal ini terjadi dalam rumah tangga, bisa menjadi sebab timbulnya kegagalan seseorang dalam berumah tangga.
2. Kesiapan Psikologis
Kematangan psikologis yang dimaksud adalah kematangan atau kesiapan tertentu secara psikis, untuk mengahadapi berbagai tantangan yang akan dihadapi selama hidup berumah tangga. Seringkali karena secara psikologis kondisi seseorang belum siap, membuat pasangan suami istri tidak siap dengan berbagai kondisi pasca nikah.
3. Kematangan Fisik
Ada beberapa hal yang menjadi persyaratan mutlak dalam sebuah perkawinan menurut Islam, yang berkaitan dengan fisik. Antara lain :
a. Seorang laki-laki atau wanita yang kan menikah harus yakin bahwa alat-alat reproduksinya berfungsi dengan baik
Karena salah satu sebab perceraian yang diperbolehkan dalam Islam adalah karena alat reproduksi pasangannya tidak berfungsi dengan baik.
b. Usia
Kita juga harus menyadari, bahwa secara fisik, kita benar-benar sudah siap menikah. Itulah kenapa sebabnya seorang wanita dianjurkan untuk tidak menikah dalam usia yang masih dini. Banyak kasus yang terjadi, dimana anak-anak yang baru keluar dari sekolah dasar (usia sekitar 12-13 tahun) langsung dinikahkan. Di Barat, ada survey yang membuktikan, bahwa orang-orang yang melakukan hubungan seksual terlalu muda, pada umumnya di atas usia tiga puluh tahunan akan mengalami hambatan-hambatan fisik.
Meskipun sekali lagi, tidak ada kriteria tertentu kapan seseorang menjadi matang secara fisik. Ada kasus-kasus tertentu, seperti halnya orang-orang tua zaman dulu, banyak yang tetap sehat dan memiliki keluarga besar, meskipun menikah dalam usia yang masih sangat muda.
c. Kesehatan
Sebelum menikah, usahakan mengetahui kondisi fisik dan kesehatan calon pasangan kita. Kalau bisa, ketahui juga kesehatan keluarga calon pasangan kita itu, karena biasanya ada penyakit tertentu yang merupakan penyakit keturunan.
4. Kesiapan Finansial
Perkawinan juga merupakan kerja ekonomi, tidak hanya cukup dengan cinta. Bukan berarti seorang muslimah harus materialistis. Namun hal ekonomi /finansial kadang menjadi pemicu konflik dalam rumah tangga. Meskipun ada beberapa pasangan yang merasa cukup hanya dengan bekal cinta saja, akan lebih baik jika kita mempersiapkan finansial sejak jauh-jauh hari.
Sahabat muslimah… Menikah adalah sebuah Mitsaqan Ghalizhan, perjanjian yang sangat berat. Banyak konsekuensi yang harus dijalani suami istri dalam berumah tangga. Jangan pernah mengambil keputusan untuk menikah hanya karena ‘ingin’, sementara banyak faktor yang belum kita persiapkan. Jika sejak awal kita sudah mempersiapkan mahligai rumah tangga yang akan kita bina, niscaya kebahagiaan dunia dan akhirat akan kita rasakan. InsyaAllah. Maka, apakah sahabat sudah ingin menikah, atau benar-benar siap dengan pernikahan ???

Jumat, 16 September 2011

Persiapan Pernikahan??

 Artikel ini gw comot dr salah satu blog (http://rieff02.multiply.com/reviews/item/38) ..entah dy jg sm,yg ptg gw cm pgn ikutan sharring ajah..

Pernikahan adalah awal perjalanan mengarungi bahtera kehidupan rumah tangga. Perjalanan panjang yang tidak hanya sehari dua hari saja, tetapi seumur hidup. Seperti halnya sebuah perjalanan, maka diperlukan bekal dan persiapan yang cukup sebelum memulai perjalanan, begitu pula ketika akan memulai kehidupan baru dalam rumah tangga. Banyak sekali yang perlu dipersiapkan agar nantinya kapal yang dinaiki tidak karam ketika badai atau ombak menerpanya. Banyak sekali bekal yang perlu dibawa agar nantinya bisa tetap eksis sampai tujuan, menuju keluarga sakinah mawaddah warahmah dalam mencapai ridha Allah SWT.

Ternyata banyak lho yang perlu disiapkan ketika kita sudah berazam untuk menggenapkan setengah dien ini. Jadi, tidak sekedar punya keinginan untuk menikah saja alias ’bonek’ (bondo nekat) tapi sebuah niat yang dibarengi dengan persiapan lahir dan batin sehingga ketika saatnya nanti tiba kita tidak ragu untuk melangkah.


Persiapan melakukan apapun adalah awal dari keberhasilan. Apalagi untuk sebuah pernikahan, momen besar dalam kehidupan seorang laki-laki dan seorang permpuan. Momen besar bagi mempelai laki-laki karena ia akan bertambah amanah dari tanggung jawab atas dirinya sendiri menjadi tanggung jawab terhadap sebuah keluarga.

Bermula dari istri dan nantinya anak-anak. Ia akan menerima limpahan perwalian seorang perempuan dari ayah atau wali yang lain. Bagi seorang perempuan momen besar itu lebih luar biasa lagi. Ia akan mempersilahkan seorang laki-laki yang tadinya bukan siapa-siapa, untuk memimpin dirinya. Kerelaan yang sungguh luar biasa.

Untuk sebuah persitiwa bersejarah itulah laki-laki dan perempuan hendaknya memiliki kesiapan diri secara moral spiritual, konsepsional, fisik, material dan sosial.

a. Persiapan Moral dan Spiritual

Kesiapan secara spiritual ditandai oleh mantapnya niat dan langkah menuju kehidupan rumah tangga. Tidak ada rasa gamang atau keraguan tatkala memutuskan untuk menikah, dengan segala konsekuensi atau resiko yang akan dihadapi paska pernikahan.

Jika anda seorang laki-laki, ada kesiapan dalam diri anda untuk bertindak sebagai qawam dalam rumah tangga, untuk berfungsi sebagai bapak bagi anak-anak yang akan lahir nantinya dari pernikahan. Ada kesiapan dalam diri anda untuk menanggung segala beban yang disebabkan oleh karena posisi anda sebagai suami dan bapak.

Jika anda seorang perempuan, harus ada kesiapan dalam diri untuk membuka ruang baru bagi intervensi seorang mitra yang bernama suami. Kesiapan untuk mengurangi sebagian otoritas atas dirinya sendiri lantaran tunduk pada prinsip syura dan ketaatan pada suami. Kesiapan untuk hamil, menyusui. Kesiapan untuk menanggung beban-beban yang muncul akibat hadirnya anak.

Sebelum memutuskan untuk menikah, persiapan diri dari segi moral amat signifikan. Ingatlah pernyataan Allah bahwa wanita-wanita yang beriman adalah untuk laki-laki yang beriman dan wanita-wanita pezina adalah untuk laki-laki pezina. Yang keji hanya layak mendapatkan yang keji pula.

Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita yang keji (pula). Dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita yang baik (pula) (An-Nur:26)

Jika anda ingin mendapat pasangan yang baik, jadikan diri baik terlebih dahulu. Jika ingin mendapatkan istri yang salehah, jadikan diri anda saleh terlebih dahulu, dan sebaliknya. Bagaimana anda menuntut istri anda sekualitas Fatimah, sedangkan anda sendiri tidak sekapasitas Ali? Bagiamana mungkin anda berharap istri anda setabah Sarah dan Hajar, sedangkan anda tidak sekokoh Ibrahim As.?

Para sahabat dan sahabiyat Nabi Saw. adalah komunitas yang terbina dalam proses tarbiyah Islamiyah secara unik dan berkesinambungan. Mereka adalah sebaik-baik generasi, oleh karenanya laki-laki muslim pada zaman itu mendapatkan pasangan wanita muslimah yang sepadan dalam kebaikan. Pilihan mereka adalah baik dan lebih baik.

Adapun cara mempersiapkan moralitas untuk para calon pengantin sebagaimana yang terjadi pada kurun kenabian, adalah dengan meningkatkan pengetahuan agama dan perbaikan diri secara kontinu melalui forum tarbiyah, ta’lim, training, berguru secara khusus, membaca, silaturahim dan banyak wasilah yang lain. Bersamaan dengan itu jadikan diri cinta beramal saleh dan ihsan. Tidak lupa senantiasa langkah bergabung dengan lingkungan yang baik. Semoga Allah memudahkan langkah usaha itu dan menjadikan diri kita menjadi pribadi taqwa.

Persiapan spiritual bisa anda lakukan dengan berbagai tuntutan yang ibadah baik yang wajib maupun yang disunnahkan. Berdoa kepada Allah senantiasa agar mendapatkan kekuatan dan kemantapan hati dalam meniti hidayah sehingga tidak melenceng dari kebenaran. Istighfar, mohon ampun kepada Allah, dan taubat merupakan cara untuk melakukan evaluasi atau kelemahan diri.

Lebih penting lagi adalah upaya kolektif untuk senantiasa berada dalam kebaikan. Ada upaya secara bersama-sama dari komunitas kaum muslimin untuk mencapai kematangan diri sesuai arahan Islam.

b. Persiapan Konsepsional

Kesiapan konsepsional ditandai dengan dikuasainya berbagai hukum, etika, aturan dan pernak-pernik pernikahan serta kerumahtanggaan. Kadang dijumpai di kalangan masyarakat kita, mereke menikah tanpa aturan Islam tentang pernikahan dan kerumahtanggaan. Wajar kalau kemudian dalam hidup berumah tangga terjadi berbagai bentuk yang tidak bersesuaian dengan sunah kenabian disebabkan oleh ketidakmengertian.

Ada pasangan yang telah bertahun-tahun menikah tapi ternyata tidak tahu bagaimana do’a hubungan suami istri dan bagaimana cara mandi besar.

Ada fenomena di beberapa kalangan masyarakat kita yang tidak memperhatikan faktor kesucian rumah tangga. Berbagai jenis najis tidak dibersihkan dengan tatacara yang sesuai dengan ketentuan fikih. Di antara penyebab semua itu adalah minimnya ilmu mengenai hukum pernikahan dan kekeluargaan.

Bahkan mulai merebak fenomena saat ini banyak terjadi pernikahan antaragama, atas nama kebebasan menjalankan kehidupan beragama. Beberapa kalangan artis melakukannya dengan bangga dan terbuka, dan bahkan ketika salah seorang muslimah yang menjadi artis menikah dengan seorang laki-laki non muslim, ia mengatakan ketika dikonfirmasi, ”Saya tidak mengetahui bahwa menikah antar agama itu tidak diperbolehkan dalam Islam.”

Seakan-akan pernikahan hanyalah peristiwa hidup pada umumnya seperti makan, tidur, mandi, dst. Seakan-akan begitu mudah mereka melaksanakan itu tanpa ada beban bahwa pernikahan adalah sebuah amanah besar yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.]

Seorang laki-laki dan perempuan harus mengetahui dengan baik dan benar posisi dan peran masing-masing pihak dalam konteks rumah tangga. Apa hak dan kewajiban masing-masing pihak dan juga hak serta kewajiban bersama. Tata krama pergaulan suami istri dalam rumah tangga dan berbagai pengetahuan yang menyebabkan kebaikan sebuah keluarga perlu dimengerti, sehingga belajar dan menyiapkan diri secara konsepsional merupakan suatu keharusan bagi setiap pribadi.

Cara yang bisa ditempuh untuk mendapatkan persiapan konsepsional adalah dengan banyak belajar, baik dengan diskusi, bertanya kepada ahlinya, mengikuti kajian, ta’lim, pembekalan pernikahan, atau dnegan membaca buku-buku dan mendengarkan ceramah melalui media elektronik. Banyak cara yang bisa dilakukan, yang diperlukan hanyalah niat dan kemauan.

Apalagi ketika Umar bin Khathab memesankan kepada kaum laki-laki, ”Ajari istrimu kandungan surat An-Nur”. Maka semakin menguatkan alasan bagi kaum laki-laki untuk banyak membekali diri agar mampu mengajarkan isi surat An-Nur kepada istrinya. Bukan hanya mengajarkan, namun ia adalah pihak yang menuntun dan mencontohkan pertamakali aplikasi dari isi surat An-nur.

c. Persiapan Fisik

Kesiapan fisik ditandai dengan adanya kesehatan yang memadai sehingga kedua belah pihak akan mampu melaksanakan fungsi diri sebagai suami dan istri dengan optimal. Apabila di antara indikator ”mampu” yang dituntut dalam pelaksanaan pernikahan adalah kemampuan melakukan jimak, maka kesehatan dituntut pada laki-laki dan perempuan salah satunya menyangkut kemampuan berhubungan suami istri secara wajar. Hal yang amat penting dalam konteks kesehatan ini adalah pada sisi kesehatan reproduksi. Bahwa laki-laki dan perempuan akan mampu melakukan fungsi reproduksi dengan baik.

Melakukan pemeriksaan kesehatan kepada ahlinya merupakan satu langkah yang bisa ditempuh menjelang pernikahan. Masing-masing pihak juga bisa mendeteksi dalam diri sendiri adanya penyakit tertentu yang dirasakan selama ini. Laki-laki dan perempuan muslim hendaklah rajin melaksanakan olahraga sebagai bagian dari penjagaan kesehatan dan kebugaran diri.

Oleh karena itu diperlukan kebugaran, bukan saja kesehatan, agar bisa senantiasa energik, tidak malas-malasan, tidak mudah lelah, dan senantiasa memiliki vitalitas tingi. Hidup teratur, makan seimbang dan bergizi, cukup istirahat, olahraga teratur merupakan langkah-langkah untuk menuju kesehatan dan kebugaran fisik.

d. Persiapan Material

Islam tidak menghendaki kita berpikiran materialistis, bahwa orientasi dalam kehidupan hanyalah materi. Akan tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa materi merupakan salah satu sarana ibadah kepada Allah.

Islam meletakkan kewajiban ekonomi akibat dari pernikahan ada di tangan suami. Para suami berkewajiban menyediakan kehidupan bagi istri, mulai kebutuhan konsumsi, pakaian, tempat tinggal, kesehatan, pendidikan dan juga transportasi. Bukan berarti istri tidak boleh bekerja produktif. Hanya saja pada pihak istri bukan merupakan kewajiban untuk produktif di bidang ekonomi.

Persiapan material sebelum pernikahan dimaksudkan lebih kepada kesiapan pihak laki-laki untuk menafkahi dan kesiapan perempuan untuk mengelola keuangan keluarga. Bukan berapa jumlah tersedianya dana untuk melaksanakan pernikahan.

Sebelum menikah, seorang laki-laki harus mengetahui pintu-pintu rizki yang akan menghantarkan dia pada pemenuhan kewajiban dalam menafkahi keluarganya. Setiap muslim hendaknya memiliki optimisme tinggi untuk bisa mendapatkan karunia dari Allah berupa rizki. Sepanjang mereka mau berusaha, jalan-jalan kemudahan itu akan datang. Allah telah berfiman:

Sesungguhnya Kami menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu (sumber) penghidupan (Al-A’raf:10)

Meskipun kaum perempuan tidak mendapatkan beban kewajiban material, akan tetapi bukan berarti tidak boleh bekerja produktif. Dalam kehidupan sekarang, dimana kebutuhan hidup semakin kompleks, telah banyak dijumpai suami dan istri sama-sama bekerja, sejak mereka belum berumah tangga. Hal seperti ini tidaklah tercela selama mereka berdua saling meridhai dan memilih pekerjaan halal serta sesuai fitrah masing-masing pihak.

e. Persiapan Sosial

Menikah menyebabkan pelakunya mendapatkan status sosial di tengah masyarakat. Jika sewaktu lajang dia masih menjadi bagian dari keluarga bapak dan ibunya, sehingga belum diperhitungkan dalam kegiatan kemasyarakatan, setelah menikah mereka mulai dihitung sebagai keluarga tersendiri.

Membiasakan diri terlibat dalam kegiatan kemasyarakatan merupakan cara melakukan persiapan sosial. Apabila laki-laki dan perempuan muslim telah mencapai usia dewasa hendaknya mereka mengambil peran sosial di tengah masyarakat sebagai bagian utuh dari cara mereka belajar berinteraksi dalam kemajuan masyarakat. Jika sebelum menikah tidak terbiasa melakukan interaksi sosial seperti ini, biasanya muncul kekagetan ketika telah berumahtangga dengan sejumlah tuntutan sosial yang ada.

Oleh karena itu, belajar berinteraksi dengan realitas kehidupan masyarakat merupakan salah satu langkah yang perlu diambil oleh laki-laki dan perempuan agar nantinya tidak canggung ketika hidup berumahtangga dan bermasyarakat secara riil.


Hmmm...ternyata menikah itu memang dibutuhkan persiapan mental yang kuat..InsyAllah..dengan niat beribadah hanya kepada Allah..dg izin Allah & dengan ridho-Nya..aq & cami mantab untuk menghadapi semua stlh pernikahan itu..banyak contoh riil dr keluarga kami berdua,dan sebenarnya itu adalah pembelajaran bwt kami jg,mempersiapkan mental kami jg..insyAllah..dengan Bismillah...^^

Rabu, 01 Juni 2011

IndaHnYa meMpeRsiaPkaN sGala seSuaTunYa b'2 deNgAnMu...


Bismillah… Bulan Juni tlah tiba… Saatnya memulai segala sesuatu persiapan menuju hari bahagia itu…

Tapi sayangnya cami lagi sibuk2nya ama kerjaan kantor,saking sibuknya mpe jarang bgt sms… L
Tp yang penting komunikasi tetep lancar ych sayang… :*
Ukey…karena cami lagi sibuk, kayaknya gag memungkinkan buat urun rembug untuk sementara ini..takut ganggu konsentrasinya cami…akhirnya gue pun yg harus muter otak (hebat bgt yah..xixixi) buat mempersiapkan smuanya…ya meski blm total persiapan siih…tp udah mulai bingung mau mulai drmn iniii…udah mulai stress mikir gmn caranya buat budgetnya bs dpress biar bs bwt beli rumah…Uke…skrg mulai cari2 warna konsepnya… Gue suka banget warna pink & ungu..tp cami ga suka..hiks…dy sukanya warna merah…tp gue jg gag begitu suka warna merah..akhirny ambil alternative antara 3 warna itu…ketemulah merah maroon tp agak keunguan  gitu..pengen banget ada contoh warnanya gtu…(lagi nyari).

Soal kebaya buat resepsi…Pengennya cami merah maroon, gue merah maroon ada pink’nya gitu…bagus kali yaah..(ini juga lagi nyari warna kebaya yg pas)… Klo undangan hard cover dengan warna merah maroon/pink keunguan..keren kayaknya…hihihi… Pengen hunting undangan lagi ke pasar Tebet… Tp blom ada waktunya & gak ada yg nemenin..scr cami bener2 sibuuk… L … Yawda nunggu cami ada waktu longgar aja dch… Biar bias milih berdua & sesuai selera berdua… Cami juga blom nyicil bwt seserahannya nih… Btw cincin nikahnya akhir bulan ini jadiii…kyk gmn yaaach… ^^

Overall untuk bulan ini mungkin yg disiapin : nyicil buat seserahan, ambil pesenan cincin, hunting undangan, klo bias sih hunting souvenir juga di Jatinegara… I’m so excited…^^
Pokok’e bismillah…smoga diberi kemudahan,kelancaran & dilapangkan rizki kami berdua untuk mempersiapkan semua ini…amiinnn….^^